INILAH AKU
Oleh: Aris Irawan 19042014
Tek. Tek tek.. hanya suara ketukan kakiku yang saat ini bisa aku dengar.
Padahal ramai sekali disekeliilingku. Lalu lalang ribuan orang terjadi di Kota ini setiap hari. Apalagi tepat didepanku berdiri sebuah bangunan megah bernama pabrik yang menghalangi pandanganku. Ya. Pandanganku. Aku selalu disini setiap senja. Dahulu aku bisa melihat mentari yang tenggelam diujung barat sana. Tp gedung ini. Aggrrhhh. Aku ingin menggesernya sedikit saja jika bisa. Tapi... meski nanti aku bisa, mungkin aku harus menggeser gedung sebelahnha dulu sebelum aku menggeser gedung itu dan mungkin sebelannya gedung yang ada disebelahnya gedung itu. Dan mungkin sebelahnya. Dan sebelahnya. Itu artinya aku harus semua gedung ini.
Aku pulang saat aku lelah berangan-angan melihat mentari yang selalu aku lihat itu. Karena saat ini hanya hal itu yang mungkin aku lakukan. Aku pulang menaiki sepeda yang kerap menemani kemanapun aku pergi. Ke kantor, mall, restaurant, ATM, sampai aku pulang lagi aku selalu menaikinya. Aku bukan tidak punya kendaraan yang berisi bahan bakar minyak digarasiku. Tapi untuk apa aku mengendarainya kalau hanya akan menghambat perjalananku?. Jalan-jalan di Kota ini sudah dilapisi aspal tebal dan halus yang membuat kebanyakan orang berfikir membeli kendaraan berbahan bakar minyak sama seperti yang aku miliki bahkan sebagian dari meraka membelinya lebih dari satu hanya untuk tidak memberi ruang di garasi mereka.
Atau mungkin... aku juga berfikir ini adalah kesalahan pemerintah. Coba saja pemerintah tidak memberi perijinan kepada perusahaan-perusahaan untuk membuat banyak mobil atau motor, aku yakin aku akan nyaman mengendarai kendaraanku di jalanan. Ah, tapi sudahlah. Aku harus cepat-cepat mengendari sepedaku agar aku tidak terlalu larut sampai rumah.
Seperti yang aku katakan tadi, terlalu banyak kendaraan berbahan bakar minyak di jalan ini sehingga menghambat laju sepedaku. Tinnnnn.... tiiinnnn.. terdengar banyak sekali bunyi klakson yang begantian mereka bunyikan. "Hai!!! Percepat laju kendaraanmu. Aku buru-buru". "Kau pikir aku mau mengendarai macam siput seperti ini?!!!!". Itu yang aku dengar dijalan ini hampir setiap hari. Keluhan dimana-mana. Aku berfikir untuk apa mereka mengeluh disini? Mengeluh satu sama lain. Seharusnya mereka mengeluh dirumah. Mengeluh pada diri mereka masing-masing. Atau pada pemerintah?
Oh tidak. Kenapa langit tiba-tiba menjadi gelap. Sepertinya hujan akan segera mengguyur kota ini. Aku tidak ingin basah kuyup dan kedinginan. Tik, tik, tik... rintik-rintik hujan mulai dijatuhkan oleh awan-awan itu. Lebih cepat dari kayuhanku. Hujan turun sangat lebat hari ini. Jarak pandangku menciut karena hujan yang terlalu lebat ini. Akhirnya aku putuskan sejenak berhenti untuk menjaga keselamatanku sembari mengangin-anginkan pakaianku yang terlanjur kuyup.
Selama 15 menit awan-awan itu tidak henti menjatuhkan hujan lebat ini. Aku takut karena biasanya jika hujan seperti ini tetap mengguyur lebih dari 15 menit selokan disekeliling jalan ini akan meluap. Entah karena selokannya kurang besar dan sistem draynase yang kurang baik atau mungkin karena ulah orang-orang yang membuang sampah-sampah di aliran air atau mungkin juga karena air tidak bisa diserap lagi dengan baik oleh bumi. Entahlah. Yang pasti. Yang aku lihat saat ini bukan pohon yang tertanam disekelilingku. Melainkan adonan-adonan semen yang menahan bumi menelan air-air ini. Juga banyak sampah menumpuk di tangah-tengah selokan itu yang membuat lumpur tertahan dan membuat pendangkalan disitu
Sudah 16 menit dan air sudah mengintip dari selokan. Perlahan air itu terus meluap dan sampai ditempat dimana aku berdiri saat ini. Dalam hati aku minta pada Tuhan agar segera menghentikan hujan ini. Akhirnya Tuhan menghentikan hujan ini walau saat ini air sudah menyentuh kedua lututku.
Terpaksa aku menggandeng sepedaku dan membawanya berjalan sampai rumah. Disekeliling jalan mobil-mobil yang terjebak macet tadi terlihat seperti ratusan paus besi yang terdampar di lautan dangkal. Aku tidak habis pikir jika tadi aku mengendarai kendaraan seperti mereka. Sudah macet, kebanjiran. Lengkap.
Sebentar lagi aku sampai di Rumah. Tempatku, istriku, kedua anakku, dan kedua orang tuaku tinggal. Ting tong. Suara bel rumahku terdengar oleh istriku yang segera membukakan pintu untukku. "Eh Ayah. Ayo masuk, yah. Sudah Ibu siapin air hangat untuk Ayah mandi". Aku langsung mandi dan setelahnya aku makan malam bersama keluarga besarku. Ayahku membuka pembicaraan "nak, kamu sudah dewasa dan Ayah sudah mulai renta akhir-akhir ini. Sepertinya perusahaan mobil dimana saat ini kamu berkerja akan segera ayah berikan padamu". Aku terdiam. Anakku laki-lakiku mendengarnya dan seraya mengatakan "iya, ayah. Ayah terima saja. Tidak baik menolak kepecayaan kakek. Iya, kan, kek?. Oh iya, yah. Temen-temen di kampus sudah dibeliin mobil oleh orang tua mereka, yah. Aku kapan?. Masak orang tuaku punya perusahaan mobil, Anaknya tidak punya mobil" aku semakim terdiam. "turutin saja apa yang diminta bapak dan anak kita, yah. Dek, tolong buangin sampah ini ke selokan depan rumah ya" kata istriku seraya menyuruh putri kecil kami untuk membuang sampah yang dibawanya dari dapur. "Dan sepertinya kamu harus segera membangun pabrik di Kota lain agar lebih menambah investasi untuk anak-anakmu nanti" nasehat ibuku yang sangat sulit untuk aku jawab 'tidak'.
Inilah aku!. 20 04 2014
Tek. Tek tek.. hanya suara ketukan kakiku yang saat ini bisa aku dengar.
Padahal ramai sekali disekeliilingku. Lalu lalang ribuan orang terjadi di Kota ini setiap hari. Apalagi tepat didepanku berdiri sebuah bangunan megah bernama pabrik yang menghalangi pandanganku. Ya. Pandanganku. Aku selalu disini setiap senja. Dahulu aku bisa melihat mentari yang tenggelam diujung barat sana. Tp gedung ini. Aggrrhhh. Aku ingin menggesernya sedikit saja jika bisa. Tapi... Meski nanti aku bisa, mungkin aku harus menggeser gedung sebelahnya dulu sebelum aku menggeser gedung itu dan mungkin sebelahnya gedung yang ada disebelahnya gedung itu. Dan mungkin sebelahnya. Dan sebelahnya. Itu artinya aku harus menggeser semua gedung ini.
Aku pulang saat aku lelah berangan-angan melihat mentari yang selalu aku lihat itu. Karena saat ini hanya hal itu yang mungkin aku lakukan. Aku pulang menaiki sepeda yang kerap menemani kemanapun aku pergi. Ke kantor, mall, restaurant, ATM, sampai aku pulang lagi aku selalu menaikinya. Aku bukan tidak punya kendaraan yang berisi bahan bakar minyak digarasiku. Tapi untuk apa aku mengendarainya kalau hanya akan menghambat perjalananku?. Jalan-jalan di Kota ini sudah dilapisi aspal tebal dan halus yang membuat kebanyakan orang berfikir membeli kendaraan berbahan bakar minyak sama seperti yang aku miliki bahkan sebagian dari meraka membelinya lebih dari satu hanya untuk tidak memberi ruang di garasi mereka.
Atau mungkin... aku juga berfikir ini adalah kesalahan pemerintah. Coba saja pemerintah tidak memberi perijinan kepada perusahaan-perusahaan untuk membuat banyak mobil atau motor, aku yakin aku akan nyaman mengendarai kendaraanku di jalanan. Ah, tapi sudahlah. Aku harus cepat-cepat mengendari sepedaku agar aku tidak terlalu larut sampai rumah.
Seperti yang aku katakan tadi, terlalu banyak kendaraan berbahan bakar minyak di jalan ini sehingga menghambat laju sepedaku. Tinnnnn.... tiiinnnn.. terdengar banyak sekali bunyi klakson yang begantian mereka bunyikan. "Hai!!! Percepat laju kendaraanmu. Aku buru-buru". "Kau pikir aku mau mengendarai macam siput seperti ini?!!!!". Itu yang aku dengar dijalan ini hampir setiap hari. Keluhan dimana-mana. Aku berfikir untuk apa mereka mengeluh disini? Mengeluh satu sama lain. Seharusnya mereka mengeluh dirumah. Mengeluh pada diri mereka masing-masing. Atau pada pemerintah?
Oh tidak. Kenapa langit tiba-tiba menjadi gelap. Sepertinya hujan akan segera mengguyur kota ini. Aku tidak ingin basah kuyup dan kedinginan. Tik, tik, tik... rintik-rintik hujan mulai dijatuhkan oleh awan-awan itu. Lebih cepat dari kayuhanku. Hujan turun sangat lebat hari ini. Jarak pandangku menciut karena hujan yang terlalu lebat ini. Akhirnya aku putuskan sejenak berhenti untuk menjaga keselamatanku sembari mengangin-anginkan pakaianku yang terlanjur kuyup.
Selama 15 menit awan-awan itu tidak henti menjatuhkan hujan lebat ini. Aku takut karena biasanya jika hujan seperti ini tetap mengguyur lebih dari 15 menit selokan disekeliling jalan ini akan meluap. Entah karena selokannya kurang besar dan sistem draynase yang kurang baik atau mungkin karena ulah orang-orang yang membuang sampah-sampah di aliran air atau mungkin juga karena air tidak bisa diserap lagi dengan baik oleh bumi. Entahlah. Yang pasti. Yang aku lihat saat ini bukan pohon yang tertanam disekelilingku. Melainkan adonan-adonan semen yang menahan bumi menelan air-air ini. Juga banyak sampah menumpuk di tangah-tengah selokan itu yang membuat lumpur tertahan dan membuat pendangkalan disitu
Sudah 16 menit dan air sudah mengintip dari selokan. Perlahan air itu terus meluap dan sampai ditempat dimana aku berdiri saat ini. Dalam hati aku minta pada Tuhan agar segera menghentikan hujan ini. Akhirnya Tuhan menghentikan hujan ini walau saat ini air sudah menyentuh kedua lututku.
Terpaksa aku menggandeng sepedaku dan membawanya berjalan sampai rumah. Disekeliling jalan mobil-mobil yang terjebak macet tadi terlihat seperti ratusan paus besi yang terdampar di lautan dangkal. Aku tidak habis pikir jika tadi aku mengendarai kendaraan seperti mereka. Sudah macet, kebanjiran. Lengkap.
Sebentar lagi aku sampai di Rumah. Tempatku, istriku, kedua anakku, dan kedua orang tuaku tinggal. Ting tong. Suara bel rumahku terdengar oleh istriku yang segera membukakan pintu untukku. "Eh Ayah. Ayo masuk, yah. Sudah Ibu siapin air hangat untuk Ayah mandi". Aku langsung mandi dan setelahnya aku makan malam bersama keluarga besarku. Ayahku membuka pembicaraan "Nak, kamu sudah dewasa dan Ayah sudah mulai renta akhir-akhir ini. Sepertinya perusahaan mobil dimana saat ini kamu berkerja akan segera Ayah berikan padamu". Aku terdiam. Anakku laki-lakiku mendengarnya dan seraya mengatakan "Iya, ayah. Ayah terima saja. Tidak baik menolak kepecayaan Kakek. Iya, kan, Kek?. Oh iya, Yah. Temen-temen di kampus sudah dibeliin mobil oleh orang tua mereka, yah. Aku kapan?. Masak orang tuaku punya perusahaan mobil, Anaknya tidak punya mobil" aku semakim terdiam. "Turutin saja apa yang diminta bapak dan anak kita, yah. Dek, tolong buangin sampah ini ke selokan depan rumah ya" kata Istriku seraya menyuruh putri kecil kami untuk membuang sampah yang dibawanya dari dapur. "Dan sepertinya kamu harus segera membangun pabrik di Kota lain agar lebih menambah investasi untuk anak-anakmu nanti" nasehat Ibuku yang sangat sulit untuk aku jawab 'tidak'.
Inilah aku!.