Sabtu, 26 April 2014

Contoh materi oprn mic

Ada yang suka atand up comedy? Udah pernah coba open mic?
Nih yang mau coba open mic saya kasih materinya open mic

Kenalin nama saya Aris Irawan. Say orang desa tp insyaAllah rejekinya juga desa.
Saya anak ke3 dari dua bersaudara. Mau tau ceritanya? Jamaaaaahhhh mau tau ceritanya? Jadi ceritanya gini ta.dulu kakak gue ikut pertukaran pljar ke luar negri. Kakak gue ikut tes dan Akhirnya kakak saya dapet deh tu. Dan akhirnya dia ikut pertukaran dg australia. Indonesia ngrim kakak gue tp sayangnya australia ngrim kangguru kerumah gue. Ini mksudnya apa coba? Gara2 pertukaran itu gue berbulan2 jalan2 breng kangguru, makan breng kanggury, tidur bareng kangguru, dan yg pling parah gue hrus manggil kangguru itu dg panggilan 'kakak. Nggk enak bnget bro. Tp mski gtu gue jg ngebelaain dia. Jadi suatu saat gue jalan sama kakak gue ini. Eh pas enjoy jalan. Ada yg nyeletus gini. "Mas peliaraannya lucu banget?" "Opo? Matamu i. Ki masku". Hah jadi gitu ya. Hmmm... tp yg namanya manusia jg pnya rasa bosen ya. Masak tiap hari harus hidup dgn kangguru? Nah gue pnya inisiatif untk bagaimana kangguru ini bsa jauh2 dr hdup gue. Gue nyari di google. Gue ketik pertukaran pelajar. Karena gue suaka kpop. Gue tambahi ke korea. Lymayan kan kalo kangguru bisa dituker dg boa. Akhirnya gue dapet. Gue langsung samperin tuh kangguru ya kakak gue itu. Gue samperin dr blakang. "Kak. Bukannya kami tdk mnrma kamu disini. Tadi aku daftari kakaak ikut pertkaran pljar ke korea." Kakak gue blang "ngekkkk" krn gue berblan2 hdup dg dia jd gue tau bhs kangguru. Itu tadi artinya "bego loh"
Gue pikit kanggiru ini marah. Tp ttp gue maksa "tolong dipikrin lg kak. Inu demi kebaikan semua" "kakak gue ngmong lg "ngekkkk" itu artinya "bego banget sih lho. "Kak, kakak harus ikut itu agar kakak dpt khdypan yg lbh bauk dsana. "Ngekkkk" artinya "ekor gue loe injek bego!!!!". "Oh iya... maaf kak..."
Akhirnya kakak gue ikut tesnya. Dan dia lulus. Indonesia ngrin kakak gue dan korea... koea ngrim gingseng temen2... tau susahnya gue saat ini? Gue tanya sam tu gingseng. Hai kakak. Namanya siapa. "Diem". Kembali lg keatas td gue blang kakak gue hilang. Ini sebabnya. Kakak gue. Gingseng itu. Gue tasuh diatas meja kamar gue. Pagi2 gue dukasih wedang sama nenek gue. Gue minum. Rasanya.. gingseng. Gue tnya nenek gue. "Nek dpt wedang ini dr mana?" Td nwnek temuin gungseng di mjamu. Nenek bakar. Trus dibikin wedang...  "nenekkkk.... ini kakakkkkkkkkm" terimakasih. Selamat malam saya aris.

Cerpen lingkungan

INILAH AKU
Oleh: Aris Irawan 19042014

Tek. Tek tek.. hanya suara ketukan kakiku yang saat ini bisa aku dengar.
Padahal ramai sekali disekeliilingku. Lalu lalang ribuan orang terjadi di Kota ini setiap hari. Apalagi tepat didepanku berdiri sebuah bangunan megah bernama pabrik yang menghalangi pandanganku. Ya. Pandanganku. Aku selalu disini setiap senja. Dahulu aku bisa melihat mentari yang tenggelam diujung barat sana. Tp gedung ini. Aggrrhhh. Aku ingin menggesernya sedikit saja jika bisa. Tapi... meski nanti aku bisa, mungkin aku harus menggeser gedung sebelahnha dulu sebelum aku menggeser gedung itu dan mungkin sebelannya gedung yang ada disebelahnya gedung itu. Dan mungkin sebelahnya. Dan sebelahnya. Itu artinya aku harus semua gedung ini.
Aku pulang saat aku lelah berangan-angan melihat mentari yang selalu aku lihat itu. Karena saat ini hanya hal itu yang mungkin aku lakukan. Aku pulang menaiki sepeda yang kerap menemani kemanapun aku pergi. Ke kantor, mall, restaurant, ATM, sampai aku pulang lagi aku selalu menaikinya. Aku bukan tidak punya kendaraan yang berisi bahan bakar minyak digarasiku. Tapi untuk apa aku mengendarainya kalau hanya akan menghambat perjalananku?. Jalan-jalan di Kota ini sudah dilapisi aspal tebal dan halus yang membuat kebanyakan orang berfikir membeli kendaraan berbahan bakar minyak sama seperti yang aku miliki bahkan sebagian dari meraka membelinya lebih dari satu hanya untuk tidak memberi ruang di garasi mereka.
Atau mungkin... aku juga berfikir ini adalah kesalahan pemerintah. Coba saja pemerintah tidak memberi perijinan kepada perusahaan-perusahaan untuk membuat banyak mobil atau motor, aku yakin aku akan nyaman mengendarai kendaraanku di jalanan. Ah, tapi sudahlah. Aku harus cepat-cepat mengendari sepedaku agar aku tidak terlalu larut sampai rumah.
Seperti yang aku katakan tadi, terlalu banyak kendaraan berbahan bakar minyak di jalan ini sehingga menghambat laju sepedaku. Tinnnnn.... tiiinnnn.. terdengar banyak sekali bunyi klakson yang begantian mereka bunyikan. "Hai!!! Percepat laju kendaraanmu. Aku buru-buru". "Kau pikir aku mau mengendarai macam siput seperti ini?!!!!". Itu yang aku dengar dijalan ini hampir setiap hari. Keluhan dimana-mana. Aku berfikir untuk apa mereka mengeluh disini? Mengeluh satu sama lain. Seharusnya mereka mengeluh dirumah. Mengeluh pada diri mereka masing-masing. Atau pada pemerintah?
Oh tidak. Kenapa langit tiba-tiba menjadi gelap. Sepertinya hujan akan segera mengguyur kota ini. Aku tidak ingin basah kuyup dan kedinginan. Tik, tik, tik... rintik-rintik hujan mulai dijatuhkan oleh awan-awan itu. Lebih cepat dari kayuhanku. Hujan turun sangat lebat hari ini. Jarak pandangku menciut karena hujan yang terlalu lebat ini. Akhirnya aku putuskan sejenak berhenti untuk menjaga keselamatanku sembari mengangin-anginkan pakaianku yang terlanjur kuyup.
Selama 15 menit awan-awan itu tidak henti menjatuhkan hujan lebat ini. Aku takut karena biasanya jika hujan seperti ini tetap mengguyur lebih dari 15 menit selokan disekeliling jalan ini akan meluap. Entah karena selokannya kurang besar dan sistem draynase yang kurang baik atau mungkin karena ulah orang-orang yang membuang sampah-sampah di aliran air atau mungkin juga karena air tidak bisa diserap lagi dengan baik oleh bumi. Entahlah. Yang pasti. Yang aku lihat saat ini bukan pohon yang tertanam disekelilingku. Melainkan adonan-adonan semen yang menahan bumi menelan air-air ini. Juga banyak sampah menumpuk di tangah-tengah selokan itu yang membuat lumpur tertahan dan membuat pendangkalan disitu
Sudah 16 menit dan air sudah mengintip dari selokan. Perlahan air itu terus meluap dan sampai ditempat dimana aku berdiri saat ini. Dalam hati aku minta pada Tuhan agar segera menghentikan hujan ini. Akhirnya Tuhan menghentikan hujan ini walau saat ini air sudah menyentuh kedua lututku.
Terpaksa aku menggandeng sepedaku dan membawanya berjalan sampai rumah. Disekeliling jalan mobil-mobil yang terjebak macet tadi terlihat seperti ratusan paus besi yang terdampar di lautan dangkal. Aku tidak habis pikir jika tadi aku mengendarai kendaraan seperti mereka. Sudah macet, kebanjiran. Lengkap.
Sebentar lagi aku sampai di Rumah. Tempatku, istriku, kedua anakku, dan kedua orang tuaku tinggal. Ting tong. Suara bel rumahku terdengar oleh istriku yang segera membukakan pintu untukku. "Eh Ayah. Ayo masuk, yah. Sudah Ibu siapin air hangat untuk Ayah mandi". Aku langsung mandi dan setelahnya aku makan malam bersama keluarga besarku. Ayahku membuka pembicaraan "nak, kamu sudah dewasa dan Ayah sudah mulai renta akhir-akhir ini. Sepertinya perusahaan mobil dimana saat ini kamu berkerja akan segera ayah berikan padamu". Aku terdiam. Anakku laki-lakiku mendengarnya dan seraya mengatakan "iya, ayah. Ayah terima saja. Tidak baik menolak kepecayaan kakek. Iya, kan, kek?. Oh iya, yah. Temen-temen di kampus sudah dibeliin mobil oleh orang tua mereka, yah. Aku kapan?. Masak orang tuaku punya perusahaan mobil, Anaknya tidak punya mobil" aku semakim terdiam. "turutin saja apa yang diminta bapak dan anak kita, yah. Dek, tolong buangin sampah ini ke selokan depan rumah ya"  kata istriku seraya menyuruh putri kecil kami untuk membuang sampah yang dibawanya dari dapur. "Dan sepertinya kamu harus segera membangun pabrik di Kota lain agar lebih menambah investasi untuk anak-anakmu nanti" nasehat ibuku yang sangat sulit untuk aku jawab 'tidak'.
Inilah aku!. 20 04 2014

Tek. Tek tek.. hanya suara ketukan kakiku yang saat ini bisa aku dengar.
Padahal ramai sekali disekeliilingku. Lalu lalang ribuan orang terjadi di Kota ini setiap hari. Apalagi tepat didepanku berdiri sebuah bangunan megah bernama pabrik yang menghalangi pandanganku. Ya. Pandanganku. Aku selalu disini setiap senja. Dahulu aku bisa melihat mentari yang tenggelam diujung barat sana. Tp gedung ini. Aggrrhhh. Aku ingin menggesernya sedikit saja jika bisa. Tapi... Meski nanti aku bisa, mungkin aku harus menggeser gedung sebelahnya dulu sebelum aku menggeser gedung itu dan mungkin sebelahnya gedung yang ada disebelahnya gedung itu. Dan mungkin sebelahnya. Dan sebelahnya. Itu artinya aku harus menggeser semua gedung ini.
Aku pulang saat aku lelah berangan-angan melihat mentari yang selalu aku lihat itu. Karena saat ini hanya hal itu yang mungkin aku lakukan. Aku pulang menaiki sepeda yang kerap menemani kemanapun aku pergi. Ke kantor, mall, restaurant, ATM, sampai aku pulang lagi aku selalu menaikinya. Aku bukan tidak punya kendaraan yang berisi bahan bakar minyak digarasiku. Tapi untuk apa aku mengendarainya kalau hanya akan menghambat perjalananku?. Jalan-jalan di Kota ini sudah dilapisi aspal tebal dan halus yang membuat kebanyakan orang berfikir membeli kendaraan berbahan bakar minyak sama seperti yang aku miliki bahkan sebagian dari meraka membelinya lebih dari satu hanya untuk tidak memberi ruang di garasi mereka.
Atau mungkin... aku juga berfikir ini adalah kesalahan pemerintah. Coba saja pemerintah tidak memberi perijinan kepada perusahaan-perusahaan untuk membuat banyak mobil atau motor, aku yakin aku akan nyaman mengendarai kendaraanku di jalanan. Ah, tapi sudahlah. Aku harus cepat-cepat mengendari sepedaku agar aku tidak terlalu larut sampai rumah.
Seperti yang aku katakan tadi, terlalu banyak kendaraan berbahan bakar minyak di jalan ini sehingga menghambat laju sepedaku. Tinnnnn.... tiiinnnn.. terdengar banyak sekali bunyi klakson yang begantian mereka bunyikan. "Hai!!! Percepat laju kendaraanmu. Aku buru-buru". "Kau pikir aku mau mengendarai macam siput seperti ini?!!!!". Itu yang aku dengar dijalan ini hampir setiap hari. Keluhan dimana-mana. Aku berfikir untuk apa mereka mengeluh disini? Mengeluh satu sama lain. Seharusnya mereka mengeluh dirumah. Mengeluh pada diri mereka masing-masing. Atau pada pemerintah?
Oh tidak. Kenapa langit tiba-tiba menjadi gelap. Sepertinya hujan akan segera mengguyur kota ini. Aku tidak ingin basah kuyup dan kedinginan. Tik, tik, tik... rintik-rintik hujan mulai dijatuhkan oleh awan-awan itu. Lebih cepat dari kayuhanku. Hujan turun sangat lebat hari ini. Jarak pandangku menciut karena hujan yang terlalu lebat ini. Akhirnya aku putuskan sejenak berhenti untuk menjaga keselamatanku sembari mengangin-anginkan pakaianku yang terlanjur kuyup.
Selama 15 menit awan-awan itu tidak henti menjatuhkan hujan lebat ini. Aku takut karena biasanya jika hujan seperti ini tetap mengguyur lebih dari 15 menit selokan disekeliling jalan ini akan meluap. Entah karena selokannya kurang besar dan sistem draynase yang kurang baik atau mungkin karena ulah orang-orang yang membuang sampah-sampah di aliran air atau mungkin juga karena air tidak bisa diserap lagi dengan baik oleh bumi. Entahlah. Yang pasti. Yang aku lihat saat ini bukan pohon yang tertanam disekelilingku. Melainkan adonan-adonan semen yang menahan bumi menelan air-air ini. Juga banyak sampah menumpuk di tangah-tengah selokan itu yang membuat lumpur tertahan dan membuat pendangkalan disitu
Sudah 16 menit dan air sudah mengintip dari selokan. Perlahan air itu terus meluap dan sampai ditempat dimana aku berdiri saat ini. Dalam hati aku minta pada Tuhan agar segera menghentikan hujan ini. Akhirnya Tuhan menghentikan hujan ini walau saat ini air sudah menyentuh kedua lututku.
Terpaksa aku menggandeng sepedaku dan membawanya berjalan sampai rumah. Disekeliling jalan mobil-mobil yang terjebak macet tadi terlihat seperti ratusan paus besi yang terdampar di lautan dangkal. Aku tidak habis pikir jika tadi aku mengendarai kendaraan seperti mereka. Sudah macet, kebanjiran. Lengkap.
Sebentar lagi aku sampai di Rumah. Tempatku, istriku, kedua anakku, dan kedua orang tuaku tinggal. Ting tong. Suara bel rumahku terdengar oleh istriku yang segera membukakan pintu untukku. "Eh Ayah. Ayo masuk, yah. Sudah Ibu siapin air hangat untuk Ayah mandi". Aku langsung mandi dan setelahnya aku makan malam bersama keluarga besarku. Ayahku membuka pembicaraan "Nak, kamu sudah dewasa dan Ayah sudah mulai renta akhir-akhir ini. Sepertinya perusahaan mobil dimana saat ini kamu berkerja akan segera Ayah berikan padamu". Aku terdiam. Anakku laki-lakiku mendengarnya dan seraya mengatakan "Iya, ayah. Ayah terima saja. Tidak baik menolak kepecayaan Kakek. Iya, kan, Kek?. Oh iya, Yah. Temen-temen di kampus sudah dibeliin mobil oleh orang tua mereka, yah. Aku kapan?. Masak orang tuaku punya perusahaan mobil, Anaknya tidak punya mobil" aku semakim terdiam. "Turutin saja apa yang diminta bapak dan anak kita, yah. Dek, tolong buangin sampah ini ke selokan depan rumah ya"  kata Istriku seraya menyuruh putri kecil kami untuk membuang sampah yang dibawanya dari dapur. "Dan sepertinya kamu harus segera membangun pabrik di Kota lain agar lebih menambah investasi untuk anak-anakmu nanti" nasehat Ibuku yang sangat sulit untuk aku jawab 'tidak'.
Inilah aku!.

Selasa, 15 April 2014

Temu Kangen MA MANBAUL ULUM TLOGOREJO KR.AWEN DEMAK

Assalamu'alaikum, kawan2

Ternyata banyak banget cerita pas kita temu kangen kemaren. Walau cuman segitu. Ya.. nggk banyak lah orangnya. Tapi beda dengan ceritanya. Ada yg serius ceritanya. Dikit sedih juga ada. Tp tetep... paliing banyak ya cerita gokil
Nih cerita mereka.
Suri: ...seneng bisa sekolah di Kudus. Banyak kenalan cowok disana. Yg menarik perhatian saya. Dulu pas saya digosipin sama kopit. Hmmmm... mungkin karena kami terlalu deket aja kali ya...
Khoir: ... pas awal2 kerja sempet mikir gini "risi juga. Padahal dulu pas sekolah nilai saya lumayan. Tp kok kerjanya kayak gini. Tp seiring waktu saya mulai terbiasa dg rutinitas pekerjaan saya. Mulai seneng". Sebenernya pengen sekolah lagi. Tp waktunya belum tepat...
Ria: ...dulu pas sekolah uda sempet keja bareng kofid di konter. Lalu dicowek ireng jg diajak kofid. Untungnya krja di cowek ireng saya jd pinter masak. Trus sekarang kerja di bitatrek. Setelak sblumnya krja di aparel. Nasib OPR... bubarrrr......!!!!!
Bahrun: ...sama kayak yg dirasain koir. Awalnya jg males kerja di tempat kerja saya skrang. Tp saya coba cari hal yg mungkn bisa saya syukuri. Akhirnya ktmu jg. Stlah krja bbrapa bulan saya kepikiran utk sekolah lg. Stlah lama cari akhirnya yg pas ya USM. Saya paling kangen saat2 main 'ABC' bareng ITy
Syangnya temen2 krja saya nggk ada yg mau mainin permainan itu. Katanya sih kayak anak kecil. Padahal kan emang...
Sanul: ...saya kuliah ngambil jurusan manejemen dakwah. Meski begitu bukan berarti cita2 saya menjadi seorang pendakwah. Yang pnting saya belajar. N yg pnting semoga jadi orang sukses. Itu saja...
Kasan: ...setelah lulus sekolah saya langsung kerja bangunan bareng bapak.stelah itu saya tertarik utk kerja di pabrik. Akhirnya diterima di triplek. Dan smpe sekarang saya kerja disana. kalo uda punya uang pengen scpetnya beli motor sendiri. Lalu stelah itu nikah...
Kurin: ...kerja bareng lek kasan. Iyo. Iyo...
Mungkin emang seragam emang uda kami lepas. Namun keliatan bangat dari muka-muka yg kemaren, masih merindukan masa-masa makai putih-abuabu. Kini kami telah menjalani kehiupan :nyata' kami
Walo baru sebentar, banyak ilmu dan pengalaman yag trlah kami dapetin. Tuh yqng diatas belum semua lho...
Nah kawan2, sedikit yang saya garis bawahi dari temu kangen kemaren adalah, bahwa ilmu dan pengalaman tdk janya bisa kita dapet dari kehidupan di sekolah atau kuliah. Sedikit contoh nyata adalah ria dan kasan.
Ria, dia udah melalang buana dalm urusan kerja. Dari konter, cowek ireng, aparel, sampe yang sekaranh bitatrex. Di konter dia tau cara ngisiin pulsa, macem2 hp, harga2nya... di cowek ireng, dia jadi pinter masak.. padahal kurang lebih baru setahun lho. Udah 4 bidang pekerjaan ria coba.
Kasan, perubaham yanf cukup silnifikan emang tetasa banget pada temen kita yang satu ini.  jadi pinter ngomong. Berani tanya dan menjawab pertanyan dengan lugas, bahkan seorang kasan B. berani merayu Ria. :) luar biasa. Ketika ditanya apa yang membuat kamu berbeda? Dia jawab "lingkungan kerja". Padahl kalau dipikir kayak nggk mungkin banget deh ya. Dia cuma pernah kerja di 2 tmpat. Satu proyek. Dua di triplek... ce'ce'ce', Kasan
Itu yang kerja lho. Bayangkan apa yang terjadi pada diri diah, suri, waro, dan bahrun yang uda ngerasain nikmatnya makan bangku perkuliahan. Hehe
Eh dari tadi critain temen2. Aku kapan? Oh ya. Spt biasa nma saya tetep Aris Irawan. Sekarang saya keja di sebuah pabrik mesin di Genuk, Semarang. Bidang yg jauh banget dari kegiatan saya waktu sekolah. Ya. Seperti yang temen2 bayangin. Tidak mudah menyesuaikan diri dg pekerjaan itu. Awalnya emang sulit. Tp bukankah tidak ada ta tidak mungkin? Saya terus n terus belajar. Dan akrinya saya bisa nglakuin pekrjaan yg hrusnya dukerjain oleh anak2 STM ini. Ada bbrp hal yg mmbuat saya kerasan dipekerjaan ini. Yg pertama kerjanya nggk kayak pabrik pd umumnya yg menurut saya menerapkan sitem 'romusa' :). Yg kedua satu pabrik itu cuma ada 14 pekerja,dikit banget,gingetin masa2 sekolah. Trus yg paling penting bosnya itu nggk nglarang kalo ada pekerjanya mau sekolah. Malah seneng.
Udah. Segini aja :). Oh y. Maksih ya buat temen2 yang uda mau nyempetin waktu, tenaga, n duitnya :) buat reuni kemaren.
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tp bukankah saling melupakan bukan pilihan kita?. Tentu. Selamat menjalani kehidupan kita masing2 sebelum nantinya kita kumpul2 lagi :)

Wassalamu'alaikum, kawan2 :)